Friday, 1 July 2016

KAJIAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN RUMAH TANGGA PETANI KELAPA SAWIT BAB 1-2

I. PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Salah satu sektor yang memberikan sumbangan penerimaan negara adalah sub sektor perkebunan yang merupakan salah satu pilar perekonomian Indonesia yang perlu ditingkatkan guna meningkatkan penerimaan nasional, perolehan devisa dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Sektor perkebunan memegang peranan penting karena dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan penerimaan dan kesempatan rakyat.
Di Indonesia sub sektor perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sub sektor perkebunan yang sangat diunggulkan yang dapat menopang perekonomian nasional dan meningkatkan penerimaan masyarakat pada umumnya. Hal ini ditunjukan bahwa suatu  rumah tangga yang ada ditingkat keluarga maupun pemerintahan pasti membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Biaya tersebut diperoleh dari penerimaan seluruh anggota keluarga baik dari sektor pertanian maupun non pertanian. Penerimaan dan pengeluaran dalam suatu rumah tangga pasti berbeda-beda penerimaan dapat dipergunakan untuk pengeluaran maupun tabungan. Pengeluaran yang dikonsumsi tersalur ke pangan, sandang, perumahan, bahan bakar, pengangkutan, hiburan dan perawatan kenderaan maupun kesehatan. Sedangkan bagian yang tidak di konsumsi masuk kedalam tabungan. Kemudian Purnomo (1993)  mengemukakan bahwa penerimaan adalah semua penghasilan  yang diterima setiap orang dalam kegiatan ekonomi dalam satu periode tertentu.
Sub sektor perkebunan kelapa sawit mempunyai peluang yang sangat besar untuk dijadikan andalan ekspor dan penerimaan keluarga. Pembangunan di bidang perkebunan diarahkan untuk lebih mempercepat laju pertumbuhan produksi baik dari perkebunan besar, swasta maupun perkebunan negara. Mendukung pembangunan industri serta meningkatkan pemanfaatan dan kelestarian sumber daya alam (SDA) berupa tanah dan air. Peranan sektor perkebunan yang demikian besar bagi peningkatan pemanfaatan petani dan penyediaan bahan baku untuk industri dalam negeri serta sebagai sumber devisa negara (Arifin, 2001).
Dalam pengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang diperlukan sebagai kegiatan pembangunan sub sektor perkebunan dalam rangka memperbaharui  sektor pertanian yang lain. Perkembangan pada berbagai sub sistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit. Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit masih mempunyai potensi ditinjau dari harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan perkebunan kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir.
Kelapa sawit yang mempunyai nama latin Elaeis merupakan tanaman industri penting  penghasil minyak makan, minyak industri, maupun bahan bakar (biodisel). Kelapa sawit yang mempunyai umur ekonomis 25 tahun dan bisa mencapai tinggi 24 meter dapat hidup dengan baik di daerah tropis (15°LU-15°LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan yang stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Kelapa sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, beberapa keunggulan minyak sawit antara lain: (1) Tingkat efisiensi minyak sawit tinggi sehingga mampu mengubah CPO menjadi sumber minyak nabati termurah, (2) Produktivitas minyak sawit tinggi yaitu 3,2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai, lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing-masing 0,34, 0,51, 0,57 dan 0,53 ton/ha, (3) Sekitar 80% penduduk dunia, khususnya negara berkembang masih berpeluang meningkatkan Pengeluaran perkapita untuk  minyak dan lemak terutama minyak yang harganya murah, (4) Terjadi pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan yaitu Leokimia yang berbahan baku CPO, terutama dibeberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropa Barat (Fauzi, 2005).
Seiring dengan berkembang pesatnya perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu dengan ditandai semakin besar pertambahan luas lahan perkebunan kelapa sawit  hal ini dikarenakan Bengkulu  secara geografis cocok untuk perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu provinsi yang berkontribusi terhadap produksi kelapa sawit nasional. Dalam perkembangannya areal penanaman kelapa sawit rakyat yang ada di Provinsi Bengkulu tersebar hampir di semua kabupaten yang ada di Bengkulu.

Tabel 1. Luas Perkebunan Rakyat di Kabupaten Seluma Tahun 2007-2012 (Ha)
No
Jenis Tanaman
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
1
Cengkeh
102
91
66,45
14,95
14,95
12,00
2
Kopi
157,70
154,70
105,53
8.357,45
8.357,00
8.207,00
3
Kelapa
1,297
1,384
1.382,8
1.873,50
1.873,50
1.261,00
4
Lada
284
276
129,31
57,31
57,31
58,00
5
Karet
261,82
263,85
264,82
26.271,50
26.271,50
26.469,00
6
Kasiavera
460
-
24,93
210,05
210,05
90,00
7
Aren
106
104
84,51
45,51
45,51
35,00
8
Kapuk
88
86
83,39
55,35
55,35
31,00
9
Kemiri
140
138
72,5
22,75
22,75
7,00
10
Nilam
377
-
-
-
-
-
11
Kelapa Sawit
187,26
197,26
290,02
31.174,00
31.300,25
31.652,00
12
Cokelat
936
130
615,06
978,55
978,55
891,00
13
Pinang
447
493
453,32
464,00
464,37
460
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012

Berdasarkan tabel  diatas luas lahan tanaman kelapa sawit di Kabupaten Seluma meningkat setiap tahun nya sejak pemekaran tahun 2003 dari kabupaten Bengkulu Selatan, pada saat itu banyak petani mulai giat untuk menanam kelapa sawit bahkan masyarakat di Kabupaten Seluma banyak mengganti usaha pertanian mereka dari perkebunan karet maupun kopi menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini menandakan bahwa respon petani  terhadap kelapa sawit semakin meningkat sehingga peluang ini banyak dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha besar untuk membuka perkebunan kelapa sawit di daerah Seluma. Tetapi sebagian besar  masyarakat kabupaten seluma membuka perkebunan kelapa sawit sendiri tanpa ada campur tangan dari perusahaan untuk mengolah perkebunan dan menjual hasil perkebunan. 
Tabel 2. Produksi Perkebunan Rakyat di Kabupaten Seluma Tahun 2007-2012 (Ton)
No
Jenis Tanaman
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
1
Cengkeh
5,20
5,46
7,65
5,00
2,71
216
2
Kopi
9.635,25
10.973,98
7.040,88
3.262,33
4.810,00
4.510,20
3
Kelapa
1.375,35
1.456,8
1.641,00
903,03
2.258,20
2.074,10
4
Lada
63,70
77,50
76,39
37,66
38,77
32,53
5
Karet
25.763,75
20.538,83
31.479,73
27.816,67
27.816,67
25.227,00
6
Kasiavera
470
-
344,60
36,04
238,10
144,00
7
Aren
36,40
41,31
48,59
-
28,69
23,10
8
Kapuk
9,31
10,14
19,84
22,07
14,20
9,68
9
Kemiri
34,10
36,23
35,51
0,98
12,50
2,30
10
Nilam
80
-
-
-
-
-
11
Kelapa Sawit
3.749,60
286.977,25
401.567,55
334.280,00
335.488,95
337.140,00
12
Cokelat
412,13
436,03
364,06
279,64
412,25
521,20
13
Pinang
146,17
152,76
178,90
184,97
192,93
259,20
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012

Semakin meningkatnya luas lahan tanaman kelapa sawit maka jumlah produksi perkebunan kelapa sawit juga meningkat seperti yang ditunjukan pada tabel 2, produksi perkebunan kelapa sawit meningkat setiap tahun nya dikarenakan banyak petani yang bergantung dari penghasilan perkebunan kelapa sawit tersebut sehingga menurunkan jumlah produksi sub sektor perkebunan yang lain seperti coklat, kopi, karet dan yang lainnya.
Tabel 3. Profil Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten Seluma Tahun 2009-2012
No
Kecamatan
Tahun
2009
2010
2011
2012
1
Semidang Alas Maras
1,884
4.286,45
4.314,45
2.343,00
2
Semidang Alas
2,030
3.558,35
3.564,60
2.271,00
3
Talo
967
807,75
814,00
1.066,00
4
Ilir Talo
2,596
3.026,50
3.026,50
3.672,00
5
Talo Kecil
1,435
1.649,75
1.654,75
1.515,00
6
Ulu Talo
1,013
2.148,50
2.161,00
984,00
7
Seluma
835
267,75
274,00
280,00
8
Seluma Selatan
1,725
1.711,70
1.711,70
1.737,00
9
Seluma Barat
2,655
3.112,31
3.118,55
2.743,00
10
Seluma Timur
997
1.487,78
1.499,53
1.259,00
11
Seluma Utara
1,164
733,00
738,75
734,00
12
Sukaraja
7,525
2.260,40
2.260,40
8.057,00
13
Air Periukan
2,595
5.183,00
5.192,50
3.518,00
14
Lubuk Sandi
1,581
940,75
969,50
924,00
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012
           
Berdasarkan data profil perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Semidang Alas pada tahun 2012 menunjukan angka 2.271,00 artinya urutan ke 6  luas lahan perkebunan kelapa sawit,  hal ini dikarenakan masyarakat baru mengenal kelapa sawit sebagai penghasilan yang menjanjikan sebelumnya masyarakat berkebun kopi, karet dan sawah sebagai penghasilan pokok/utama kelapa sawit sebagai perkebunan percobaan pemilihan bibitnya masih sembarangan, sehingga pada saat ini perkebunan kelapa sawit sebagai penopang utama keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan. Dilihat  dari kecamatan lain yang sudah lama mengusahakan perkebunan kelapa sawit seperti di Kecamatan  Sukaraja, Ilir Talo, Air Periukan, Seluma Barat dan  Semidang Alas Maras  sehingga mereka memiliki luas lahan yang cukup besar di Kabupaten Seluma, pada tahun 2012  saja sudah ada perkebunan yang ditanam ulang atau pembugaran. Hal ini menunjukan bahwa  Kecamatan Semidang Alas terutama di Desa Talang Durian ber potensi sebagai sentral perkebunan kelapa sawit dimasa akan datang dapat kita lihat dari alih fungsi lahan pertanian dari perkebunan kopi, karet dijadikan perkebunan kelapa sawit dan pemilihan bibit  yang berkualitas. Semakin luas lahan  perkebunan kelapa sawit maka semakin meningkat juga jumlah produksi perkebunan.
Berdasarkan uraian dan tabel diatas yang dilakukan petani dalam meningkatkan penerimaan, upaya yang dijalankan rumah tangga petani selama ini adalah dengan mengusahakan berbagai macam perkebunan tetapi perkebunan kelapa sawit yang lebih dominan dan meningkat setiap tahun nya, dalam upaya meningkatkan penerimaan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian yang ditujukan untuk Kajian Penerimaan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma dengan mendiskripsikan hubungan antara penerimaan dan pengeluaran rumah tangga petani kelapa sawit.
1.2  Rumusan Masalah
Kajian penerimaan dapat diukur berdasarkan dari berbagai macam sumber yaitu penerimaan pokok dan penerimaan sampingan suatu keluarga, dalam hal ini terdiri dari penerimaan pertanian  dan penerimaan non pertanian. Sedangkan pengeluaran adalah nilai barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga dan kemudian dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari baik jasmani maupun rohani dalam  periode waktu tertentu.
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:
1.      Berapa besarnya penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma?
2.      Bagaimana pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.         Mengkaji besarnya penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma.
2.      Mengkaji pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga petani kelapa sawit                            di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma.
1.4  Manfaat penelitian
Adapun kegunaan dan manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
1.         Memberikan gambaran atau informasi tentang kondisi perkebunan kelapa sawit di Desa Talang Durian.
2.         Sebagai bahan informasi bagi pihak yang melakukan penelitian selanjut nya mengenai Kajian Penerimaan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit.
3.         Memberikan masukan dan sumbangan pemikiran bagi petani kelapa sawit dalam rangka kemajuan pertanian mereka.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penerimaan Rumah Tangga
            Penerimaan merupakan sumber yang paling utama dari berbagai kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh masyarakat, dengan kebutuhan barang maupun jasa dapat dipenuhi dengan adanya penerimaan suatu keluarga, baik penerimaan dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk barang. Penerimaan rumah tangga adalah jumlah penerimaan yang diperoleh dari penerimaan semua anggota rumah tangga dari berbagai kegiatan ekonomi sehari-hari misalnya upah dan gaji, hasil produksi pertanian dikurangi biaya produksi, penerimaan dari usaha rumah tangga bukan pertanian dan penerimaan dari kekayaaan seperti sewa rumah, sewa alat, bunga, santunan asuransi, dan lain-lain (Surbakti, 2002).
Berdasarkan model ekonomi dengan diagram circular flow pengertian penerimaan rumah tangga Pengeluaran adalah seluruh balas jasa yang diterima oleh rumah tangga Pengeluaran dari faktor-faktor produksi yang digunakan oleh rumah tangga produksi, yaitu sewa, bunga, upah dan laba (Murni, 2006).        Pengeluaran mempunyai peran penting di dalamnya serta mempuyai pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas perekonomian. Semakin tinggi tingkat  Pengeluaran, semakin tinggi tingkat perubahan kegiatan ekonomi dan perubahan dalam penerimaan nasional suatu negara. Pengeluaran keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditas yang dikonsusmi itulah akan mempunyai kepuasan tersendiri. Oleh karena itu, Pengeluaran seringkali dijadikan  salah satu indikator kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dan cita-cita suatu negara (Mizkat, 2005).
Menurut Oxlay (2011) penerimaan keluarga adalah seluruh penerimaan yang diperoleh seseorang selama jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun. Sumber penghasilan suatu rumah tangga keluarga bergantung pada lapangan usaha yang dilakukannya.
Secara garis besar lapangan usaha yang dapat dilakukan seseorang digolongkan menjadi tiga macam sebagai berikut:
1. Usaha sendiri.
2. Bekerja pada orang lain.
3. Hasil dari milik.
Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat penerimaan keluarga maka semakin rendah porsi pengeluaran untuk Pengeluaran pangan (Sumarwan, 1993).  Berdasarkan teori klasik ini, maka  keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila porsi pengeluaran untuk pangan jauh lebih kecil dari porsi pengeluaran untuk non pangan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya penerimaan keluarga, karena sebagian  besar dari penerimaan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
A.      Penerimaan Pokok
            Penerimaan pokok adalah penerimaan total dari faktor produksi yang dikelolah dan mendapat keuntungan atau balas jasa dari produksinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga misalnya, pegawai negri sipil, pemilik sekaligus pengolah perkebunan kelapa sawit.
            Menurut Eugene (1993 penerimaan sekarang terdiri atas penerimaan permanen dan penerimaan sementara. Penerimaan permanen/pokok adalah penerimaan yang diharapkan akan diterima oleh rumah tangga selama beberapa tahun mendatang, sedangkan penerimaan sementara terdiri dari tiap tambahan atau pengeluaran yang tidak terduga terhadap penerimaan permanen.
            Menurut Samuelson (1999) faktor penerimaan pokok yang mempengaruhi dan menentukan jumlah pengeluaran untuk Pengeluaran adalah penerimaan permanen dan penerimaan menurut daur hidup, kekayaan dan faktor penentu lainnya seperti faktor sosial dan harapan tentang kondisi ekonomi dimasa yang akan datang.
B.       Penerimaan Sampingan
            Penerimaan sampingan adalah penerimaan yang dikerjakan selain dari penerimaan pokok untuk memperoleh penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga misalnya, seorang petani memiliki usaha sampingan sebagai tukang, seorang pegawai negeri sipil memiliki warung.
            Penerimaan perorangan (personal income) merupakan penerimaan agregat (yang berasal dari berbagi sumber) yang secara actual diterima oleh seseorang atau rumah tangga (Nanga, 2001). Sedangkan menurut Sukirno (2004) penerimaan sampingan adalah semua jenis penerimaan, termasuk penerimaan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apa pun, yang diterima oleh masyarakat suatu daerah. Ada tiga sumber penerimaan (uang dan bukan uang) seseorang atau suatu rumah tangga selama periode tertentu yaitu:
1) Penerimaan dari gaji dan upah. Gaji dan upah adalah balas jasa terhadap kesediaan    menjadi tenaga kerja.
2)         Penerimaan dari asset produktif. Asset produktif adalah asset yang memberikan  pemasukan atas batas jasa penggunaanya.
3)  Penerimaan dari pemerintah. Penerimaan dari pemerintah atau penerimaan transfer adalah penerimaan yang diterima bukan sebagai balas jasa input yang diberikan. Atau pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah misalnya pembayaran untuk jaminan sosial yang diambil dari pajak yang tidak menyebabkan pertambahan dalam output.
2.2 Pengeluaran Rumah Tangga
            Suyatiri (2008) menyatakan bahwa pengeluaran pangan bergantung oleh pendidikan rumah tangga. Semakin tinggi pendidikan formal masyarakat, maka pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya kualitas pangan yang diPengeluaran masyarkat untuk meningkatkan kesehatan akan menyebabkan semakin bervariasinya pangan yang diPengeluaran. Selanjutnya jumlah anggota rumah tangga akan mempengaruhi pengeluaran pangan berbasis potensi lokal. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga maka kebutuhan pangan yang diPengeluaran akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota rumah tangga mempunyai selera yang belum tentu sama.
Peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan, karena pangan merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Ketahanan pangan diartikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman diPengeluaran bagi setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu (Purwantini, 2004).
Menurut Roedjito dalam Irawan (2010) ketidak cukupan pangan berhubungan dengan faktor sosial, ekonomi, kepercayaan, proses pembagian dalam keluarga dan distribusinya, kelesuan, sanitasi, dan efek lain dari kemiskinan. Pengeluaran pangan rumah tangga merupakan salah satu faktor penentu tingkat kesehatan dan kecerdasan serta produktivitas rumah tangga.
Menurut Badan Pusat Statistik (2007) rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga dalam setahun untuk Pengeluaran seluruh anggota rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga merupakan indikator yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan penduduk. Semakin tinggi penerimaan maka porsi pengeluaran untuk pangan ke pengeluaran non pangan.
Menurut Joesron dan Fathorrozy (2003) kebutuhan manusia relatif tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan manusia dalam memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif yang paling menguntungkan dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya perilaku konsumen karena adanya keinginan meperoleh kepuasan yang maksimal dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi mempunyai keterbatasan penerimaan.
Menurut Boediono  (1984) kebutuhan manusia itu timbul dari:
1.    Kebutuhan biologis untuk hidup (makan, minum dan pakaian serta tempat tinggal)
2.    Kebutuhan yang timbul dari peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri. Misalnya: keinginan rumah yang baik, keinginan makanan yang lezat dan sebagainya.
3.    Lain-lain kebutuhan yang khas masing-masing perseorangan.
Sedangkan barang yang tidak dikonsumsi berfungsi sebagai alat pemuas kebutuhan, ada dua jenis yaitu:
1.      Durable Consumption Goods, yaitu barang-barang Pengeluaran yang tahan lama atau dapat dipakai dalam jangka panjang, misalnya: radio, mobil, telivisi dan lainnya.
2.      Non Durable Consumption Goods, yaitu barang-barang Pengeluaran yang sifatnya hanya dipakai sekali saja, misalnya: makanan, sayuran dan lain sebagainya.
Pengeluaran makanan bermutu gizi seimbang mensyaratkan perlunya diverisifikasi makanan dalam menu sehari-hari. Ini berarti menuntut adanya ketersediaan sumber zat tenaga (karbohidrat dan lemak) sumber zat pembangun (protein) dan sumber zat pengatur (vitamin dan mineral). Makanan yang beraneka ragam sangat penting karena tidak ada satu jenis makanan yang dapat menyediakan gizi bagi seseorang secara lengkap (Khomsan, 2004).
Kerawanan pangan terjadi mana kala rumah tangga, masyarakat atau daerah tertentu mengalami ketidak cukupan pangan untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan individu anggota (Suryana, 2004) Ada tiga hal penting yang mempengaruhi tingkat rawan pangan, yaitu :
a. Kemampuan penyediaan pangan kepada individu/rumah.
b. Kemampuan individu/rumah tangga untuk mendapatkan  pangan.
c. Proses distribusi dan pertukaran pangan yang tersedia dengan sumber daya yang dimiliki oleh individu/rumah tangga.

2.3  Konsep dan Jenis Pengeluaran Masyarakat
A.  Pengeluaran Pangan
Pengeluaran pangan adalah jumlah pengeluaran rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan bahan makanan, yaitu makanan pokok, protein hewani, sayur-sayuran, buah-buahan, jajanan, dan kelompok kebutuhan lain-lain (teh, kopi, gula, minyak goreng, bumbu-bumbu dapur dan lain-lain) yang diukur dalam rupiah.
Jumlah Pengeluaran pangan yang dimakan seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan tertentu. Kebiasaan mengkonsumsi pangan yang baik akan menyebabkan setatus gizi yang baik pula, dan keadaan ini dapat terlaksana apabila telah tercipta keseimbangan antara banyaknya jenis-jenis zat gizi yang diPengeluaran dengan banyaknya gizi yang dibutuhkan tubuh (Syahrir, 2002).
Pada umumnya penduduk Indonesia yang sebagian besar terdiri atas petani, masih mengandalkan sebagian besar Pengeluaran pangan. Makanan pokok yang digunakan adalah beras, jagung, umbi-umbian (terutama singkong dan ubi jalar), dan sagu (Almatsier, 2001).
B.  Pengeluaran Non Pangan
Pengeluaran Non Pangan adalah jumlah pengeluaran rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan di luar bahan makanan yaitu berupa sandang, papan, pendidikan, kesehatan, transportasi, elektronika, hiburan, minyak tanah, gas, rekening (listrik, telepon, air) dan lain-lain yang diukur dalam rupiah. Kesejahteraan rumah tangga yang dapat diukur melalui besarnya Pengeluaran atau pengeluaran yang dikeluarkan oleh rumah tangga yang bersangkutan untuk membeli barang atau jasa sebagai pemuas kebutuhan. Semakin besar Pengeluaran atau pengeluaran rumah tangga, terutama porsi untuk Pengeluaran non pangan, maka tingkat kesejahteraan rumah tangga yang bersangkutan semakin baik (Badan Pusat Statistik, 2007).
Asumsi dasar tentang pengeluaran rumah tangga atau individu adalah bahwa setiap rumah tangga atau individu tersebut akan memaksimumkan kepuasanya, kesejahteraanya, kemakmuranya, atau kegunaanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok sebagai kebutuhan esensial sedapat mugkin harus dipenuhi oleh suatu rumah tangga supaya mereka dapat hidup wajar. Kebutuhan Esensial ini antara lain: makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan partisipasi, transportasi, perawatan pribadi, rekreasi. Alokasi pengeluaran Pengeluaran masyarakat secara garis besar dapat digolongkan dalam dua kelompok penggunaan, yaitu pengeluaran untuk pangan, dan pengeluaran untuk non pangan. Berikut ini disajikan daftar alokasi pengeluaran masyarakat:
Tabel 4. Alokasi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan Masyarakat


Pengeluaran rumah

No
Pangan

Non Pangan
1
Sayur-sayuran                                         

Perumahan dan Bahan Bakar
2
Kacang-kacangan                                    

Barang Perawatan Badan
3
Buah-buahan                                            

Bacaan
4
Minyak dan Lemak                                   

Komunikasi/Hp
5
Bahan Minuman                                       

Kendaraan Bermotor
6
Bumbu-bumbuan                                      

Transportasi
7
Makanan Jadi                                          

Pembantu Rumah Tangga dan Sopir
8
Tembakau dan Sirih                                 

Biaya Pendidikan
9
Padi-padian                                              

Kesehatan
10
Umbi-umbian                                          

Pakaian, Alas Kaki, Tutup Kepala
11
Ikan                                                        

Barang-barang Tahan Lama
12
Daging                                                    

Pajak dan Premi Asuransi
13
Telur dan Susu                                        

Keperluan Pesta dan Upacara
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010

2.4 Penelitian Terdahulu
Erni (2012) dalam skripsi “Struktur Penerimaan dan Pengeluaran Rumah Tangga  Petani di Desa Imigrasi Permu Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang” menyatakan bahwa penerimaan rumah tangga Petani di Desa Imigrasi Permu dari sektor on farm sebesar 59,54%, sektor off farm sebesar 7,19% dan penerimaan dari sektor non farm sebesar 33,27%. Pengeluaran rumah tangga Petani di Desa Imigrasi Permu terdiri dari konsumsi makan sebesar 51,76% dan konsumsi non makan sebesar 48,24%. Tingkat penerimaan di Desa Imigrasi Permu masih tergolong rendah karena tingkat kesejahteraan diukur dari semakin tinggi tingkat penerimaan rumah tangga petani per bulan besar maka proporsi pengeluaran untuk konsumsi non makanan relatif meningkat.
Puspadi dan Wahyu (2004) dalam jurnal Teknologi Pertanian Pola Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Kaitannya Dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Studi Kasus di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur” menyebutkan bahwa penerimaan rumah tangga dialokasikan untuk berbagai keperluan, antara lain: Pengeluaran, keperluan sehari-hari, kegiatan sosial, keperluan anak sekolah dan keperluan lain-lain. Pengeluaran harus diatur secara bijaksana, dalam hal ini yang banyak berperan ibu rumah tangga, sehingga penerimaan yang terbatas dapat memenuhi seluruh keperluan, biasanya untuk memenuhi keperluan dalam jangka waktu selama satu bulan.
Rachman dan Supriyati (2004) dalam jurnal Agro-Ekonomika Pola Konsumsi dan Pengeluaran Rumah Tangga Studi Kasus Rumah Tangga di Pedesaan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa komsumsi khususnya Pengeluaran pangan rumah tangga merupakan salah satu faktor penentu tingkat kesehatan dan kecerdasan serta produktivitas rumah tangga. Pemilihan jenis makanan yang akan di konsumsi umumnya dilakukan oleh ibu rumah tangga dengan berbagai pertimbangan.
Yusmini dan Hadi (2012) dalam jurnal Agribisnis “Struktur Pendapatan dan Pola Pengeluaran Pada Rumah Tangga Miskin di Desa Kampung Pulau Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu” menyatakan bahwa pengeluaran rumah tangga miskin di Desa Kampung Pulau terbagi atas dua bagian yaitu pengeluaran pangan dan pengeluaran non pangan. Pengeluaran yang terbanyak dialokasikan pada pengeluaran pangan yaitu  68,71 % sedangkan pengeluaran non pangan sebanyak 31,29 %. Besarnya pengeluran pangan dari pada pengeluaran non pangan hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat desa kampung pulau tergolong miskin dengan tingkat kesejahteraan yang masih sangat rendah.
Winarti (2007) dalam Skripsi “Analisis Tingkat Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Nelayan di kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar” menyatakan bahwa proporsi alokasi pengeluaran untuk Pengeluaran pangan berbanding lurus dengan besarnya penerimaan total keluarga, artinya semakin besar penerimaan total keluarga maka proporsi alokasi untuk Pengeluaran pangan semakin besar. Selain itu besarnya tanggungan berbanding lurus dengan Pengeluaran pangan artinya terdapat hubungan yang positif antara besarnya tanggungan dengan tingkat Pengeluaran pangan walaupun dengan tingkat Pengeluaran pangan walaupun dengan tingkat Pengeluaran pangan, dan dengan tingkat koefisien yang kecil.
2.5 Kerangka Pemikiran
Seberapa jauh perkembangan ataupun peningkatan kesejateraan masyarakat di perdesaan di lakukan melalui suatu studi mengenai penerimaan dan pengeluaran. Sumber-sumber penerimaan rumah tangga erat hubungannya dengan penguasaan atas faktor-faktor modal dan keterampilan masyarakat itu sendiri.
Kegiatan dalam sektor perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sumber penerimaan sebagian besar rumah tangga di daerah peneliti. Mata pencaharian sektor usaha tani sawit , non usaha tani dan non pertanian merupakan penerimaan rumah tangga, tetapi penerimaan pertanian yang masih diandalkan masyarakat terutama dari perkebunan kelapa sawit.
Teori ekonomi menyatakan bahwa dalam kurun waktu tertentu peningkatan penerimaan akan membawa perubahan tehadap pengeluaran rumah tangga dalam alokasi penerimaan yang dikeluarkan untuk kebutuhan pangan dan non pangan. Kita dapat menilai seberapa jauh perkembangan kesejahteraan masyarakat perdesaan pada saat ini, disamping itu dengan mengetahui perkembangan harga dan tingkat penerimaan terhadap pengeluaran suatu barang maka kebutuhan akan barang tersebut dapat diramalkan dengan baik pada waktu yang akan datang.
Kemudian kajian penerimaan rumah tangga dan tingkat Pengeluaran ialah dengan semakin besarnya penerimaan rumah tangga kaya maka rumah tangga tersebut lebih banyak untuk memenuhi  kebutuhan non pangan dan sebaliknya rumah tangga miskin lebih banyak porsinya untuk  memenuhi kebutuhan pangan dari pada memenuhi kebutuhan non  pangan untuk keluarga dan dirinya sendiri (Yiswita, 2004).



No comments:

Post a Comment