I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah
satu sektor yang memberikan sumbangan penerimaan negara adalah sub sektor
perkebunan yang merupakan salah satu pilar perekonomian
Indonesia yang perlu ditingkatkan guna meningkatkan penerimaan nasional,
perolehan devisa dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Sektor perkebunan
memegang peranan penting karena dapat memberikan kontribusi
dalam upaya peningkatan penerimaan dan kesempatan rakyat.
Di
Indonesia sub sektor perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sub sektor
perkebunan yang sangat diunggulkan yang dapat menopang perekonomian nasional
dan meningkatkan penerimaan masyarakat pada umumnya. Hal ini ditunjukan bahwa
suatu rumah tangga
yang ada ditingkat keluarga maupun pemerintahan pasti membutuhkan biaya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Biaya tersebut diperoleh dari penerimaan
seluruh anggota keluarga baik
dari sektor pertanian maupun non
pertanian. Penerimaan dan pengeluaran dalam suatu rumah tangga
pasti berbeda-beda penerimaan dapat dipergunakan untuk pengeluaran maupun
tabungan. Pengeluaran
yang dikonsumsi tersalur ke pangan, sandang, perumahan, bahan bakar,
pengangkutan, hiburan dan perawatan kenderaan maupun kesehatan. Sedangkan
bagian yang tidak di konsumsi masuk kedalam tabungan. Kemudian Purnomo (1993)
mengemukakan bahwa penerimaan adalah semua
penghasilan yang diterima setiap orang dalam kegiatan ekonomi dalam satu
periode tertentu.
Sub sektor perkebunan kelapa
sawit mempunyai peluang yang sangat besar untuk dijadikan andalan ekspor dan penerimaan keluarga. Pembangunan
di bidang perkebunan diarahkan untuk lebih mempercepat laju pertumbuhan
produksi baik dari perkebunan besar, swasta maupun perkebunan negara. Mendukung
pembangunan industri serta meningkatkan pemanfaatan dan kelestarian sumber daya
alam (SDA) berupa tanah dan air. Peranan sektor perkebunan yang demikian besar
bagi peningkatan pemanfaatan petani dan penyediaan bahan baku untuk industri
dalam negeri serta sebagai sumber devisa negara (Arifin, 2001).
Dalam pengembangan
agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang diperlukan sebagai
kegiatan pembangunan sub sektor perkebunan dalam rangka memperbaharui sektor pertanian yang lain. Perkembangan pada
berbagai sub sistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak
menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan perkebunan
kelapa sawit. Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan perkebunan
kelapa sawit masih mempunyai potensi ditinjau dari harga, ekspor dan
pengembangan produk. Secara internal, pengembangan perkebunan kelapa sawit
didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih
dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir.
Kelapa
sawit yang mempunyai nama latin Elaeis merupakan tanaman industri
penting penghasil minyak makan, minyak
industri, maupun bahan bakar (biodisel). Kelapa sawit yang mempunyai
umur ekonomis 25 tahun dan bisa mencapai tinggi 24 meter dapat hidup dengan
baik di daerah tropis (15°LU-15°LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian
0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim
dengan curah hujan yang stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak
tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Kelapa sawit
merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi, karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Kelapa
sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, beberapa
keunggulan minyak sawit antara lain: (1) Tingkat efisiensi minyak sawit tinggi
sehingga mampu mengubah CPO menjadi sumber minyak nabati termurah, (2)
Produktivitas minyak sawit tinggi yaitu 3,2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai,
lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing-masing 0,34, 0,51, 0,57 dan 0,53
ton/ha, (3) Sekitar 80% penduduk dunia, khususnya negara berkembang masih
berpeluang meningkatkan Pengeluaran perkapita untuk minyak dan
lemak terutama minyak yang harganya murah, (4) Terjadi pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke
bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan
yaitu Leokimia yang berbahan baku
CPO, terutama dibeberapa negara maju seperti
Amerika Serikat, Jepang dan Eropa Barat (Fauzi, 2005).
Seiring
dengan berkembang pesatnya perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu dengan
ditandai semakin besar pertambahan luas lahan perkebunan kelapa sawit hal ini dikarenakan Bengkulu secara geografis cocok untuk perkebunan kelapa
sawit merupakan salah satu provinsi yang berkontribusi terhadap produksi kelapa
sawit nasional. Dalam perkembangannya areal penanaman kelapa sawit rakyat yang
ada di Provinsi Bengkulu tersebar hampir di semua kabupaten yang ada di
Bengkulu.
Tabel 1. Luas Perkebunan Rakyat
di Kabupaten Seluma Tahun 2007-2012 (Ha)
No
|
Jenis Tanaman
|
Tahun
|
|||||
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
||
1
|
Cengkeh
|
102
|
91
|
66,45
|
14,95
|
14,95
|
12,00
|
2
|
Kopi
|
157,70
|
154,70
|
105,53
|
8.357,45
|
8.357,00
|
8.207,00
|
3
|
Kelapa
|
1,297
|
1,384
|
1.382,8
|
1.873,50
|
1.873,50
|
1.261,00
|
4
|
Lada
|
284
|
276
|
129,31
|
57,31
|
57,31
|
58,00
|
5
|
Karet
|
261,82
|
263,85
|
264,82
|
26.271,50
|
26.271,50
|
26.469,00
|
6
|
Kasiavera
|
460
|
-
|
24,93
|
210,05
|
210,05
|
90,00
|
7
|
Aren
|
106
|
104
|
84,51
|
45,51
|
45,51
|
35,00
|
8
|
Kapuk
|
88
|
86
|
83,39
|
55,35
|
55,35
|
31,00
|
9
|
Kemiri
|
140
|
138
|
72,5
|
22,75
|
22,75
|
7,00
|
10
|
Nilam
|
377
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
11
|
Kelapa Sawit
|
187,26
|
197,26
|
290,02
|
31.174,00
|
31.300,25
|
31.652,00
|
12
|
Cokelat
|
936
|
130
|
615,06
|
978,55
|
978,55
|
891,00
|
13
|
Pinang
|
447
|
493
|
453,32
|
464,00
|
464,37
|
460
|
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012
Berdasarkan
tabel diatas luas lahan tanaman kelapa
sawit di Kabupaten Seluma meningkat setiap tahun nya sejak pemekaran tahun 2003
dari kabupaten Bengkulu Selatan,
pada saat itu banyak petani mulai giat untuk menanam kelapa sawit bahkan
masyarakat di Kabupaten Seluma banyak mengganti usaha pertanian mereka dari
perkebunan karet maupun kopi menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini
menandakan bahwa respon petani terhadap kelapa
sawit semakin meningkat sehingga peluang ini banyak dimanfaatkan oleh
pengusaha-pengusaha besar untuk membuka perkebunan kelapa sawit di daerah
Seluma. Tetapi sebagian besar masyarakat
kabupaten seluma membuka perkebunan kelapa sawit sendiri tanpa ada campur
tangan dari perusahaan untuk mengolah perkebunan dan menjual hasil
perkebunan.
Tabel 2. Produksi Perkebunan Rakyat di
Kabupaten Seluma Tahun 2007-2012 (Ton)
No
|
Jenis Tanaman
|
Tahun
|
|||||
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
||
1
|
Cengkeh
|
5,20
|
5,46
|
7,65
|
5,00
|
2,71
|
216
|
2
|
Kopi
|
9.635,25
|
10.973,98
|
7.040,88
|
3.262,33
|
4.810,00
|
4.510,20
|
3
|
Kelapa
|
1.375,35
|
1.456,8
|
1.641,00
|
903,03
|
2.258,20
|
2.074,10
|
4
|
Lada
|
63,70
|
77,50
|
76,39
|
37,66
|
38,77
|
32,53
|
5
|
Karet
|
25.763,75
|
20.538,83
|
31.479,73
|
27.816,67
|
27.816,67
|
25.227,00
|
6
|
Kasiavera
|
470
|
-
|
344,60
|
36,04
|
238,10
|
144,00
|
7
|
Aren
|
36,40
|
41,31
|
48,59
|
-
|
28,69
|
23,10
|
8
|
Kapuk
|
9,31
|
10,14
|
19,84
|
22,07
|
14,20
|
9,68
|
9
|
Kemiri
|
34,10
|
36,23
|
35,51
|
0,98
|
12,50
|
2,30
|
10
|
Nilam
|
80
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
11
|
Kelapa Sawit
|
3.749,60
|
286.977,25
|
401.567,55
|
334.280,00
|
335.488,95
|
337.140,00
|
12
|
Cokelat
|
412,13
|
436,03
|
364,06
|
279,64
|
412,25
|
521,20
|
13
|
Pinang
|
146,17
|
152,76
|
178,90
|
184,97
|
192,93
|
259,20
|
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012
Semakin meningkatnya luas lahan tanaman kelapa sawit
maka jumlah produksi perkebunan kelapa sawit juga meningkat seperti yang
ditunjukan pada tabel 2, produksi perkebunan kelapa sawit meningkat setiap
tahun nya dikarenakan banyak petani yang bergantung dari penghasilan perkebunan
kelapa sawit tersebut sehingga menurunkan jumlah produksi sub sektor perkebunan
yang lain seperti coklat, kopi, karet dan yang lainnya.
Tabel 3. Profil Perkebunan Kelapa
Sawit Kabupaten Seluma Tahun 2009-2012
No
|
Kecamatan
|
Tahun
|
|||
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
||
1
|
Semidang Alas Maras
|
1,884
|
4.286,45
|
4.314,45
|
2.343,00
|
2
|
Semidang Alas
|
2,030
|
3.558,35
|
3.564,60
|
2.271,00
|
3
|
Talo
|
967
|
807,75
|
814,00
|
1.066,00
|
4
|
Ilir Talo
|
2,596
|
3.026,50
|
3.026,50
|
3.672,00
|
5
|
Talo Kecil
|
1,435
|
1.649,75
|
1.654,75
|
1.515,00
|
6
|
Ulu Talo
|
1,013
|
2.148,50
|
2.161,00
|
984,00
|
7
|
Seluma
|
835
|
267,75
|
274,00
|
280,00
|
8
|
Seluma Selatan
|
1,725
|
1.711,70
|
1.711,70
|
1.737,00
|
9
|
Seluma Barat
|
2,655
|
3.112,31
|
3.118,55
|
2.743,00
|
10
|
Seluma Timur
|
997
|
1.487,78
|
1.499,53
|
1.259,00
|
11
|
Seluma Utara
|
1,164
|
733,00
|
738,75
|
734,00
|
12
|
Sukaraja
|
7,525
|
2.260,40
|
2.260,40
|
8.057,00
|
13
|
Air Periukan
|
2,595
|
5.183,00
|
5.192,50
|
3.518,00
|
14
|
Lubuk Sandi
|
1,581
|
940,75
|
969,50
|
924,00
|
Sumber: BPS Kabupaten Seluma, 2012
Berdasarkan data profil
perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Semidang Alas pada tahun 2012 menunjukan
angka 2.271,00 artinya urutan ke 6 luas
lahan perkebunan kelapa sawit, hal ini
dikarenakan masyarakat baru mengenal kelapa sawit sebagai penghasilan yang
menjanjikan sebelumnya masyarakat berkebun kopi, karet dan sawah sebagai
penghasilan pokok/utama kelapa sawit sebagai
perkebunan percobaan pemilihan bibitnya
masih sembarangan, sehingga
pada saat ini perkebunan kelapa sawit sebagai penopang utama keluarga untuk
memenuhi kebutuhan
pangan dan non pangan. Dilihat dari kecamatan lain yang sudah lama
mengusahakan perkebunan kelapa sawit seperti di Kecamatan Sukaraja, Ilir Talo, Air Periukan, Seluma
Barat dan Semidang Alas Maras sehingga mereka memiliki luas lahan yang
cukup besar di Kabupaten Seluma, pada tahun 2012 saja sudah ada perkebunan yang ditanam ulang
atau pembugaran. Hal ini menunjukan bahwa Kecamatan Semidang Alas terutama di Desa
Talang Durian ber potensi sebagai sentral perkebunan kelapa sawit dimasa akan
datang dapat kita lihat dari alih fungsi lahan pertanian dari perkebunan kopi,
karet dijadikan perkebunan kelapa sawit dan pemilihan bibit yang berkualitas. Semakin luas lahan perkebunan kelapa sawit maka semakin meningkat
juga jumlah produksi perkebunan.
Berdasarkan
uraian dan tabel diatas yang dilakukan petani dalam meningkatkan penerimaan,
upaya yang dijalankan rumah tangga petani selama ini adalah dengan mengusahakan
berbagai macam perkebunan tetapi perkebunan kelapa sawit yang lebih dominan dan
meningkat setiap tahun nya, dalam upaya meningkatkan penerimaan rumah tangga
untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan.
Berdasarkan
uraian diatas, maka penelitian yang ditujukan untuk Kajian Penerimaan dan
Pengeluaran Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Desa Talang Durian Kecamatan
Semidang Alas Kabupaten Seluma dengan mendiskripsikan hubungan
antara penerimaan dan pengeluaran rumah
tangga petani kelapa sawit.
1.2 Rumusan
Masalah
Kajian penerimaan dapat diukur berdasarkan dari berbagai
macam sumber yaitu penerimaan pokok dan penerimaan sampingan suatu keluarga, dalam
hal ini terdiri dari penerimaan pertanian dan penerimaan non pertanian. Sedangkan pengeluaran
adalah nilai barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga dan kemudian dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari baik jasmani maupun rohani dalam periode waktu tertentu.
Berdasarkan latar belakang di atas maka
permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Berapa
besarnya penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian
Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma?
2. Bagaimana
pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa
Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma?
1.3 Tujuan
Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui:
1.
Mengkaji
besarnya penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang
Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma.
2.
Mengkaji pengeluaran
pangan dan non pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas
Kabupaten Seluma.
1.4
Manfaat
penelitian
Adapun
kegunaan dan manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
1.
Memberikan
gambaran atau informasi tentang kondisi perkebunan kelapa sawit di Desa Talang
Durian.
2.
Sebagai
bahan informasi bagi pihak yang melakukan penelitian selanjut nya
mengenai Kajian Penerimaan
dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit.
3.
Memberikan
masukan dan sumbangan pemikiran bagi petani kelapa sawit dalam rangka kemajuan
pertanian mereka.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Penerimaan Rumah Tangga
Penerimaan
merupakan sumber yang paling utama dari berbagai kegiatan perekonomian yang
dilakukan oleh masyarakat, dengan kebutuhan barang maupun jasa dapat dipenuhi
dengan adanya penerimaan suatu keluarga, baik penerimaan dalam bentuk uang
ataupun dalam bentuk barang.
Penerimaan rumah tangga adalah jumlah penerimaan yang diperoleh dari penerimaan
semua anggota rumah tangga dari berbagai kegiatan ekonomi sehari-hari misalnya
upah dan gaji, hasil produksi pertanian dikurangi biaya produksi, penerimaan
dari usaha rumah tangga bukan pertanian dan penerimaan dari kekayaaan seperti
sewa rumah, sewa alat, bunga, santunan asuransi, dan lain-lain (Surbakti, 2002).
Berdasarkan model ekonomi dengan diagram circular flow pengertian penerimaan
rumah tangga Pengeluaran adalah seluruh balas jasa yang diterima oleh rumah
tangga Pengeluaran dari faktor-faktor produksi yang digunakan oleh rumah tangga
produksi, yaitu sewa, bunga, upah dan laba (Murni, 2006). Pengeluaran
mempunyai peran penting di dalamnya serta mempuyai pengaruh yang sangat besar
terhadap stabilitas perekonomian. Semakin tinggi tingkat Pengeluaran, semakin tinggi tingkat perubahan
kegiatan ekonomi dan perubahan dalam penerimaan nasional suatu negara. Pengeluaran
keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai
kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditas yang dikonsusmi itulah akan
mempunyai kepuasan tersendiri. Oleh karena itu, Pengeluaran seringkali
dijadikan salah satu indikator
kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dan cita-cita
suatu negara (Mizkat, 2005).
Menurut Oxlay
(2011) penerimaan keluarga adalah seluruh penerimaan yang diperoleh seseorang
selama jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun. Sumber penghasilan suatu rumah
tangga keluarga bergantung pada lapangan usaha yang dilakukannya.
Secara
garis besar lapangan usaha yang dapat dilakukan seseorang digolongkan menjadi
tiga macam sebagai berikut:
1. Usaha sendiri.
2. Bekerja pada orang lain.
3. Hasil dari milik.
Teori Engel’s yang
menyatakan bahwa semakin
tinggi tingkat penerimaan keluarga maka semakin
rendah porsi
pengeluaran untuk Pengeluaran pangan
(Sumarwan, 1993). Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila
porsi pengeluaran
untuk pangan
jauh lebih kecil
dari porsi
pengeluaran untuk non pangan.
Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil dengan
bertambahnya penerimaan keluarga, karena sebagian besar dari penerimaan tersebut dialokasikan
pada kebutuhan non pangan.
A.
Penerimaan
Pokok
Penerimaan pokok adalah penerimaan
total dari faktor produksi yang dikelolah dan mendapat keuntungan atau balas
jasa dari produksinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga misalnya, pegawai negri
sipil, pemilik sekaligus pengolah perkebunan kelapa sawit.
Menurut Eugene (1993 penerimaan sekarang terdiri
atas penerimaan permanen dan penerimaan sementara. Penerimaan permanen/pokok
adalah penerimaan
yang diharapkan akan diterima oleh rumah tangga selama beberapa tahun
mendatang, sedangkan penerimaan sementara terdiri dari tiap tambahan atau
pengeluaran yang tidak terduga terhadap penerimaan permanen.
Menurut
Samuelson (1999) faktor penerimaan pokok yang mempengaruhi dan menentukan
jumlah pengeluaran untuk Pengeluaran adalah penerimaan permanen dan penerimaan
menurut daur hidup, kekayaan dan faktor penentu lainnya seperti faktor sosial
dan harapan tentang kondisi ekonomi dimasa yang akan datang.
B.
Penerimaan
Sampingan
Penerimaan sampingan adalah penerimaan
yang dikerjakan selain dari penerimaan pokok untuk memperoleh penghasilan
tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga misalnya, seorang petani memiliki
usaha sampingan sebagai tukang, seorang pegawai negeri sipil memiliki warung.
Penerimaan perorangan (personal income) merupakan penerimaan agregat (yang berasal dari
berbagi sumber) yang secara actual diterima oleh seseorang atau rumah tangga
(Nanga, 2001).
Sedangkan menurut Sukirno (2004) penerimaan sampingan adalah semua jenis penerimaan,
termasuk penerimaan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apa pun,
yang diterima oleh masyarakat suatu daerah. Ada tiga sumber penerimaan (uang
dan bukan uang) seseorang atau suatu rumah tangga selama periode tertentu yaitu:
1)
Penerimaan dari gaji dan upah. Gaji dan upah adalah balas jasa terhadap
kesediaan menjadi tenaga kerja.
2) Penerimaan dari asset produktif. Asset produktif adalah asset
yang memberikan pemasukan atas batas
jasa penggunaanya.
3) Penerimaan dari pemerintah. Penerimaan dari
pemerintah atau penerimaan transfer adalah penerimaan yang diterima bukan
sebagai balas jasa input yang diberikan. Atau pembayaran yang dilakukan oleh
pemerintah misalnya pembayaran untuk jaminan sosial yang diambil dari pajak
yang tidak menyebabkan pertambahan dalam output.
2.2 Pengeluaran
Rumah Tangga
Suyatiri (2008) menyatakan
bahwa pengeluaran pangan bergantung oleh pendidikan rumah tangga. Semakin
tinggi pendidikan formal masyarakat, maka pengetahuan dan wawasan tentang
pentingnya kualitas pangan yang diPengeluaran masyarkat untuk meningkatkan
kesehatan akan menyebabkan semakin bervariasinya pangan yang diPengeluaran.
Selanjutnya jumlah anggota rumah tangga akan mempengaruhi pengeluaran pangan
berbasis potensi lokal. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga maka
kebutuhan pangan yang diPengeluaran akan semakin bervariasi karena
masing-masing anggota rumah tangga mempunyai selera yang belum tentu sama.
Peningkatan ketahanan
pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan, karena pangan merupakan
kebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Ketahanan pangan diartikan sebagai tersedianya
pangan dalam jumlah yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman diPengeluaran bagi
setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu (Purwantini, 2004).
Menurut Roedjito dalam Irawan (2010) ketidak cukupan pangan berhubungan
dengan faktor sosial, ekonomi, kepercayaan, proses pembagian dalam keluarga dan
distribusinya, kelesuan, sanitasi, dan efek lain dari kemiskinan. Pengeluaran
pangan rumah tangga merupakan salah satu faktor penentu tingkat kesehatan dan
kecerdasan serta produktivitas rumah tangga.
Menurut Badan Pusat
Statistik (2007) rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga dalam
setahun untuk Pengeluaran seluruh anggota rumah tangga. Pengeluaran rumah
tangga merupakan indikator yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan
penduduk. Semakin tinggi penerimaan maka porsi pengeluaran untuk pangan ke
pengeluaran non pangan.
Menurut
Joesron dan Fathorrozy (2003) kebutuhan manusia relatif tidak terbatas sementara sumber
daya yang tersedia sangat terbatas, hal ini mengakibatkan manusia dalam
memenuhi setiap kebutuhannya akan berusaha memilih alternatif yang paling
menguntungkan dirinya. Lebih lanjut ia katakan bahwa timbulnya
perilaku konsumen karena adanya keinginan meperoleh kepuasan yang maksimal
dengan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tetapi mempunyai
keterbatasan penerimaan.
Menurut
Boediono (1984) kebutuhan manusia itu
timbul dari:
1.
Kebutuhan biologis untuk hidup (makan, minum dan pakaian
serta tempat tinggal)
2.
Kebutuhan yang timbul dari peradaban dan kebudayaan manusia
itu sendiri. Misalnya: keinginan rumah yang baik, keinginan makanan yang lezat
dan sebagainya.
3.
Lain-lain kebutuhan yang khas masing-masing perseorangan.
Sedangkan barang yang tidak dikonsumsi berfungsi sebagai alat pemuas
kebutuhan, ada dua jenis yaitu:
1.
Durable
Consumption Goods, yaitu barang-barang Pengeluaran yang tahan lama atau
dapat dipakai dalam jangka panjang, misalnya: radio, mobil, telivisi dan
lainnya.
2.
Non
Durable Consumption Goods, yaitu barang-barang Pengeluaran yang sifatnya hanya
dipakai sekali saja, misalnya: makanan, sayuran dan lain sebagainya.
Pengeluaran makanan
bermutu gizi seimbang mensyaratkan perlunya diverisifikasi makanan dalam menu
sehari-hari. Ini berarti menuntut adanya ketersediaan sumber zat tenaga
(karbohidrat dan lemak) sumber zat pembangun (protein) dan sumber zat pengatur
(vitamin dan mineral). Makanan yang beraneka ragam sangat penting karena tidak
ada satu jenis makanan yang dapat menyediakan gizi bagi seseorang secara
lengkap (Khomsan, 2004).
Kerawanan pangan terjadi mana
kala rumah tangga, masyarakat atau daerah tertentu mengalami ketidak cukupan
pangan untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan
kesehatan individu anggota (Suryana, 2004) Ada
tiga hal penting yang mempengaruhi tingkat rawan pangan, yaitu :
a. Kemampuan penyediaan pangan
kepada individu/rumah.
b. Kemampuan individu/rumah
tangga untuk mendapatkan pangan.
c. Proses distribusi dan
pertukaran pangan yang tersedia dengan sumber daya yang dimiliki oleh
individu/rumah tangga.
2.3 Konsep dan Jenis Pengeluaran Masyarakat
A. Pengeluaran Pangan
Pengeluaran
pangan adalah jumlah pengeluaran rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulan
untuk kebutuhan bahan makanan, yaitu makanan pokok, protein hewani,
sayur-sayuran, buah-buahan, jajanan, dan kelompok kebutuhan lain-lain (teh,
kopi, gula, minyak goreng, bumbu-bumbu dapur dan lain-lain) yang diukur dalam
rupiah.
Jumlah
Pengeluaran pangan
yang dimakan seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan tertentu. Kebiasaan
mengkonsumsi
pangan yang baik akan menyebabkan setatus gizi yang baik pula, dan keadaan ini
dapat terlaksana apabila telah tercipta keseimbangan antara banyaknya jenis-jenis
zat gizi yang diPengeluaran
dengan banyaknya gizi yang dibutuhkan tubuh (Syahrir, 2002).
Pada umumnya penduduk
Indonesia yang sebagian besar terdiri atas petani, masih mengandalkan sebagian
besar Pengeluaran pangan. Makanan pokok yang digunakan adalah beras, jagung,
umbi-umbian (terutama singkong dan ubi jalar), dan sagu (Almatsier, 2001).
B. Pengeluaran Non
Pangan
Pengeluaran
Non Pangan adalah jumlah pengeluaran rumah
tangga yang dikeluarkan setiap bulan untuk kebutuhan di luar bahan makanan
yaitu berupa sandang, papan, pendidikan,
kesehatan, transportasi, elektronika, hiburan, minyak tanah, gas, rekening
(listrik, telepon, air) dan lain-lain yang diukur dalam rupiah. Kesejahteraan
rumah tangga yang dapat diukur melalui besarnya Pengeluaran atau pengeluaran
yang dikeluarkan oleh rumah tangga yang bersangkutan untuk membeli barang atau
jasa sebagai pemuas kebutuhan. Semakin besar Pengeluaran atau pengeluaran rumah
tangga, terutama porsi untuk Pengeluaran non pangan, maka tingkat kesejahteraan
rumah tangga yang bersangkutan semakin baik (Badan Pusat Statistik, 2007).
Asumsi
dasar tentang pengeluaran rumah tangga atau individu adalah bahwa setiap rumah
tangga atau individu tersebut akan memaksimumkan kepuasanya, kesejahteraanya,
kemakmuranya, atau kegunaanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok sebagai kebutuhan
esensial sedapat mugkin harus dipenuhi oleh suatu rumah tangga supaya mereka
dapat hidup wajar. Kebutuhan Esensial ini antara lain: makanan, pakaian,
perumahan, kesehatan, pendidikan partisipasi, transportasi, perawatan pribadi,
rekreasi. Alokasi pengeluaran Pengeluaran masyarakat secara garis besar dapat
digolongkan dalam dua kelompok penggunaan, yaitu pengeluaran untuk pangan, dan pengeluaran untuk non
pangan. Berikut ini
disajikan daftar alokasi pengeluaran masyarakat:
Tabel 4. Alokasi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan Masyarakat
Pengeluaran rumah
|
|||
No
|
Pangan
|
Non Pangan
|
|
1
|
Sayur-sayuran
|
Perumahan dan Bahan Bakar
|
|
2
|
Kacang-kacangan
|
Barang Perawatan Badan
|
|
3
|
Buah-buahan
|
Bacaan
|
|
4
|
Minyak dan Lemak
|
Komunikasi/Hp
|
|
5
|
Bahan Minuman
|
Kendaraan Bermotor
|
|
6
|
Bumbu-bumbuan
|
Transportasi
|
|
7
|
Makanan Jadi
|
Pembantu Rumah Tangga dan Sopir
|
|
8
|
Tembakau dan Sirih
|
Biaya Pendidikan
|
|
9
|
Padi-padian
|
Kesehatan
|
|
10
|
Umbi-umbian
|
Pakaian, Alas
Kaki, Tutup
Kepala
|
|
11
|
Ikan
|
Barang-barang Tahan Lama
|
|
12
|
Daging
|
Pajak dan
Premi Asuransi
|
|
13
|
Telur dan Susu
|
Keperluan Pesta dan Upacara
|
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010
2.4 Penelitian
Terdahulu
Erni (2012) dalam skripsi “Struktur Penerimaan dan
Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Desa
Imigrasi Permu Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang” menyatakan bahwa
penerimaan rumah tangga Petani di Desa Imigrasi Permu dari sektor on farm sebesar
59,54%, sektor off farm sebesar 7,19% dan penerimaan dari sektor non farm
sebesar 33,27%. Pengeluaran rumah tangga Petani di Desa Imigrasi Permu terdiri
dari konsumsi makan sebesar 51,76% dan konsumsi non makan sebesar 48,24%.
Tingkat penerimaan di Desa Imigrasi Permu masih tergolong rendah karena tingkat
kesejahteraan diukur dari semakin tinggi tingkat penerimaan rumah tangga petani
per bulan besar maka proporsi pengeluaran untuk konsumsi non makanan relatif
meningkat.
Puspadi dan Wahyu (2004) dalam
jurnal Teknologi Pertanian
“Pola
Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Kaitannya Dengan Ketahanan
Pangan Rumah Tangga Studi Kasus di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok
Timur” menyebutkan
bahwa penerimaan rumah tangga dialokasikan untuk berbagai keperluan,
antara lain: Pengeluaran, keperluan sehari-hari, kegiatan sosial, keperluan
anak sekolah dan keperluan lain-lain. Pengeluaran harus diatur secara
bijaksana, dalam hal ini yang banyak berperan ibu rumah tangga, sehingga penerimaan
yang terbatas dapat memenuhi seluruh keperluan, biasanya untuk memenuhi
keperluan dalam jangka waktu selama satu bulan.
Rachman dan Supriyati (2004) dalam jurnal Agro-Ekonomika “Pola Konsumsi dan Pengeluaran Rumah Tangga Studi Kasus Rumah Tangga di
Pedesaan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan” menyebutkan bahwa komsumsi khususnya Pengeluaran
pangan rumah tangga merupakan salah satu faktor penentu tingkat kesehatan dan
kecerdasan serta produktivitas rumah tangga. Pemilihan jenis makanan yang akan
di konsumsi umumnya dilakukan oleh ibu rumah tangga dengan berbagai pertimbangan.
Yusmini dan Hadi (2012) dalam jurnal
Agribisnis “Struktur Pendapatan dan Pola Pengeluaran Pada Rumah
Tangga Miskin di Desa Kampung Pulau Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu” menyatakan bahwa pengeluaran rumah tangga miskin di Desa Kampung Pulau terbagi atas dua
bagian yaitu pengeluaran pangan dan pengeluaran non pangan. Pengeluaran yang
terbanyak dialokasikan pada pengeluaran pangan yaitu 68,71 % sedangkan pengeluaran non pangan
sebanyak 31,29 %. Besarnya pengeluran pangan dari pada pengeluaran non pangan
hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat desa kampung pulau tergolong miskin
dengan tingkat kesejahteraan yang masih sangat rendah.
Winarti
(2007) dalam Skripsi “Analisis Tingkat Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Nelayan
di kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar” menyatakan bahwa
proporsi alokasi pengeluaran untuk Pengeluaran pangan berbanding lurus dengan
besarnya penerimaan total keluarga, artinya semakin besar penerimaan total
keluarga maka proporsi alokasi untuk Pengeluaran pangan semakin besar. Selain
itu besarnya tanggungan berbanding lurus dengan Pengeluaran pangan artinya
terdapat hubungan yang positif antara besarnya tanggungan dengan tingkat Pengeluaran
pangan walaupun dengan tingkat Pengeluaran pangan walaupun dengan tingkat Pengeluaran
pangan, dan dengan tingkat koefisien yang kecil.
2.5 Kerangka Pemikiran
Seberapa jauh perkembangan ataupun peningkatan
kesejateraan masyarakat di perdesaan di lakukan melalui suatu studi mengenai penerimaan
dan pengeluaran. Sumber-sumber penerimaan rumah tangga erat hubungannya dengan
penguasaan atas faktor-faktor modal dan keterampilan masyarakat itu sendiri.
Kegiatan dalam sektor perkebunan kelapa sawit merupakan
salah satu sumber penerimaan sebagian besar rumah tangga di daerah peneliti. Mata
pencaharian sektor usaha tani sawit , non usaha tani dan non pertanian
merupakan penerimaan rumah tangga, tetapi penerimaan pertanian yang masih
diandalkan masyarakat terutama dari perkebunan kelapa sawit.
Teori ekonomi menyatakan bahwa dalam kurun waktu tertentu
peningkatan penerimaan akan membawa perubahan tehadap pengeluaran rumah tangga dalam
alokasi penerimaan yang dikeluarkan untuk kebutuhan pangan dan non pangan. Kita
dapat menilai seberapa jauh perkembangan kesejahteraan masyarakat perdesaan
pada saat ini, disamping itu dengan mengetahui perkembangan harga dan tingkat penerimaan
terhadap pengeluaran suatu barang maka kebutuhan akan barang tersebut dapat
diramalkan dengan baik pada waktu yang akan datang.
Kemudian kajian penerimaan rumah tangga dan tingkat Pengeluaran
ialah dengan semakin besarnya penerimaan rumah tangga kaya maka rumah tangga
tersebut lebih
banyak untuk memenuhi kebutuhan non pangan
dan sebaliknya rumah
tangga miskin lebih banyak porsinya untuk
memenuhi kebutuhan pangan
dari pada memenuhi kebutuhan non
pangan untuk keluarga dan
dirinya sendiri
(Yiswita, 2004).
|
|
No comments:
Post a Comment