Friday, 1 July 2016

KAJIAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN RUMAH TANGGA PETANI KELAPA SAWIT DI DESA TALANG DURIAN BAB 5

V
V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden merupakan ciri-ciri atau sifat-sifat dari responden yang diamati. Tujuan dari mengetahui karakteristik responden ialah untuk mengetahui kondisi serta keadaan dari responden yang akan diamati, karakteristik responden merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian. Karakteristik responden usahatani kelapa sawit yang diamati dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga dan pengalaman kerja. Untuk lebih jelasnya mengenai karakteristik responden usahatani kelapa sawit di Desa Talang Durian dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Karakteristik Responden Petani Kelapa Sawit
Karakteritik
Petani
Petani Kelapa Sawit
Jumlah
Persentase (%)
Rata-Rata
Umur (Thn)



46,23
<  40
12
30,77
40-53
17
43,59
 >  53
10
25,64
Pendidikan formal (Thn)



10,00
                             <  8
  9
23,08
8-10
  8
20,51
> 10
22
56,41
Jumlah Anggota Keluarga (Org)



 4,28
3-4
24
61,54
5-6
15
38,46
Pengalaman (Thn)



10,28
                           <  10
11
28,21
                          10-11
19
48,72
                           >  11
  9
23,08
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
5.1.1   Umur
Tingkat produktivitas kerja petani kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh umur petani. Pada umumnya usia produktif petani dapat menghasilkan kerja yang maksimal. Menurut Mubyarto (1989), bahwa umur seorang yang berkisar 15-64 tahun termasuk dalam golongan produktif. Dinyatakan juga bahwa seseorang pada usia produktif akan memberikan hasil yang maksimal jika dibandingkan pada usia di bawah produktif.
Rata-rata umur petani kelapa sawit yaitu 46,23 tahun dan untuk persentase terbesar jumlah petani kelapa sawit adalah pada rentang umur 40-53 tahun. Bila dilihat dari keadaan umur tersebut, diharapkan petani kelapa sawit di Desa Talang Durian akan melakukan usahanya secara optimal sehingga produksi kelapa sawit yang diharapkan dapat maksimal. Petani yang berada pada usia produktif tentunya masih mempunyai kemampuan yang optimal, yang lebih baik dalam berfikir dan bertindak untuk melakukan segala sesuatu kegiatan.
5.1.2   Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan dalam keberhasilan suatu usaha. Pendidikan seseorang umumnya mempengaruhi cara dan pola fikir dalam mengelola usahanya dan akan berpartisipasi aktif juga dalam suatu kegiatan. Dengan adanya pendidikan formal ini diharapkan dapat membentuk sebuah pola fikir yang maju dan realitas sehingga dapat membawa kemajuan bagi dirinya. Menurut Mosher (1996) pendidikan formal bertujuan untuk mempersiapkan diri seorang petani untuk memasuki hidup sekarang maupun masa yang akan datang.
Berdasarkan Tabel 10 di atas bahwa rata-rata pendidikan formal yang ditempuh petani kelapa sawit adalah 10 tahun atau setara dengan tingkat pendidikan SLTA. Persentase terbesar jumlah petani kelapa sawit pada rentang pendidikan >10  tahun. Bila dilihat dari tingkat pendidikan formal tersebut, dapat dikatakan bahwa petani kelapa sawit di daerah penelitian memiliki tingkat pendidikan yang cukup. Pendidikan sangat diperlukan untuk menambah pengetahuan petani, karena secara tidak langsung akan berpengaruh pada tingkat adopsi dan penerapan teknologi oleh petani
5.1.3   Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga yang dibebankan kapada kepala keluarga biasanya terdiri dari istri, anak-anak, orang tua dan anggota keluarga lainya selain kepala keluarga. Jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan dapat memberi motivasi bagi petani sebagai kepala keluarga untuk dapat menghasilkan produksi seoptimal mungkin supaya mendapatkan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa rata-rata jumlah tanggungan keluarga petani kelapa sawit adalah 4 orang atau berkisar 3-4 orang. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh pada tingkat pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Semakin besar jumlah tanggungan keluarga maka akan semakin besar pula pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan keluarga tersebut dan sebaliknya. Secara tidak langsung hal ini memberikan motivasi yang kuat bagi petani kelapa sawit untuk berupaya meningkatkan kegiatan usahanya sehingga kebutuhan keluarga terpenuhi. Menurut Soekartawi (1995), jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap tingkat adopsi. Tingginya jumlah anggota keluarga mengindikasikan bahwa petani  dapat melakukan adopsi teknologi guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Disisi lain, anggota keluarga yang banyak diharapkan mampu membantu dalam sumbangan tenaga kerja dalam keluarga. Suatu inovasi baru dalam usaha tani, anggota keluarga dapat menjadi tenaga kerja yang memberikan sumbangan tenaga dalam melaksanakan inovasi baru tersebut.
5.1.4   Pengalaman
Pengalaman dalam melakukan usahatani kelapa sawit menunjukan lamanya petani dalam melakukan usahanya. Pengalaman ini akan membantu petani dalam mengambil keputusan untuk melakukan usahatani kelapa sawit pada periode hasil produksi berikutnya. Petani selalu belajar dari pengalamanya sehingga mempunyai gambaran tentang apa yang akan dilakukan demi peningkatan hasil produksi berikutnya.
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa rata-rata pengalaman petani kelapa sawit adalah 10  tahun, dari Tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa persentase terbesar jumlah petani kelapa sawit pada rentang 10-11 tahun hal ini berarti pengalaman dalam melakukan usahatani kelapa sawit akan memberikan pengetahuan yang lebih luas dalam melakukan kegiatan usahatani kelapa sawit. Petani yang berpengalaman akan lebih efisien dan produktif dalam mengelola usahanya dibandingkan dengan petani yang belum berpengalaman, karena petani tersebut mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan usaha pertanian kelapa sawit berdasarkan dari pengalaman sebelumnya yang sudah pernah dilakuka. Menurut Malcolm dan Mackham (1986) menyatakan bahwa pengalaman dalam melakukan usaha banyak memberikan kecendrungan bahwa petani bersangkutan memiliki keterampilan yang relatif tinggi begitupun sebaliknya. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa pengalaman berusahatani sudah cukup lama.

5.2 Penerimaan Rumah Tangga Petani
Penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit sebagai nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan dapat dihitung dengan cara mengalikan jumlah produksi total dengan harga yang berlaku di pasaran. Petani dan keluarganya membutuhkan sejumlah dana untuk membiayai kebutuhan hidupnya (biaya hidup). Biaya hidup ini diperoleh dari berbagai sumber, antara lain dari sumber usahatani sawit, non usahatani sawit serta penerimaan dari non pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Penerimaan rumah tangga di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Penerimaan Rumah Tangga Petani Desa Talang Durian
No
Jenis Penerimaan RT
Rata-Rata (Rp/Bln)
Persentase (%)

RT Petani Dengan Sumber Penerimaan Pertanian dan Non Pertanian


1
Usahatani Sawit
6.662.173,59
78,13
2
Non Usahatani Sawit (Karet)
1.353.179,49
15,87
3
Total Penerimaan Pertanian (1+2)
8.015.353,08
94,00
4
Non Pertanian
   512.051,28
   6,00
5
Total Pertanian & Non Pertanian (3+4)
8.527.404,36
           100,00
Sumber: Data primer diolah, 2014 (Lampiran 5)
Penerimaan yang diperoleh petani kelapa sawit di Desa Talang Durian  yaitu berasal dari sektor usahatani sawit, non usahatani sawit dan sektor non pertanian. Berdasarkan Tabel 11 masing-masing sumber penerimaan memiliki rata-rata yang berbeda-beda yakni untuk usahatani sawit memiliki rata-rata sebesar Rp. 6.662,173,59 per bulan dengan persentase sebesar 78,13%, kemudian untuk rata-rata non usahatani sawit (karet) sebesar Rp. 1.353.179,49 per bulan dengan persentase 15,87%. Total rata-rata penerimaan dari pertanian adalah Rp. 8.015,353,08 per bulan dengan persentase 94,00%, sedangkan untuk penerimaan dari sektor non pertanian yaitu rata-rata penerimaan Rp. 512.051,28 per bulan dengan persentase sebesar 6,00%. Penerimaan rumah tangga yang paling tinggi adalah dari usahatani kelapa sawit. Karena usahatani kelapa sawit merupakan usaha pokok sedangkan penerimaan non usahatani sawit dan non pertanian sebagai usaha sampingan hal ini dikarenakan tidak semua petani memiliki usaha tersebut dan luas lahannya lebih kecil dibandingkan usahatani sawit, luas lahan usahatani sawit di daerah penelitian rata-rata sebanyak 3,18 Ha.
5.2.1 Penerimaan Usahatani Sawit
Penerimaan usahatani sawit di Desa Talang Durian adalah sebesar Rp.6.662,173,59 per bulan dengan persentase sebesar 78,13% (Tabel 11) dari total keseluruhan penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit.
Penerimaan usahatani sawit adalah penerimaan utama bisa dilihat dari luas lahan, jumlah produksi dan rata-rata penerimaan per bulan. Hal ini juga diungkapkan oleh petani, kelapa sawit pemeliharaan lebih mudah dan disaat harga naik penerimaan cenderung lebih besar dari beberapa penerimaan yang ada seperti penerimaan non usahatani sawit (karet) dan non pertanian (PNS, bengkel dan warung). Hasil panen usahatani sawit dilakukan dua minggu sekali, sehingga selama satu bulan bisa dua kali panen. Hal ini juga yang mengakibatkan harga jual berbeda setiap kali panen antara petani satu dengan petani yang lainya, karena setiap hari harga jual tandan buah segar (TBS) tidak selalu sama sehingga petani memerlukan penerimaan tambahan di saat harga jual kelapa sawit kecil.
5.2.2 Penerimaan Non Usahatani Sawit (Karet)
Penerimaan  non usahatani sawit (Karet) di Desa Talang Durian adalah sebesar Rp.1.353.179,49 per bulan dengan persentase sebesar 15,87% (Tabel 11) dari total keseluruhan penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit.
Penerimaan non usahatani sawit (karet) di daerah peneliti sebagai penerimaan atau penghasilan sampingan. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 11 bahwa jumlah rata-rata penerimaan non usahatani (karet) lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan usahatani sawit. Di samping itu juga luas lahan usahatani karet lebih kecil dari usahatani sawit, luas lahan non usahatani sawit (karet) di daerah penelitian dengan rata-rata 1,15 Ha. Menurut petani cara produksinya usahatani sawit dan karet juga berbeda, usahatani karet harus setiap hari melakukan penyadapan getah karet. Sedangkan usahatani sawit cukup dua kali dalam satu bulan atau dua minggu sekali untuk memanennya. Di samping itu juga harga jual karet kadang kala tidak sesuai dengan pemeliharaannya, karena harga jual karet sering naik turun dalam hitungan hari. Pada saat penelitian rata-rata harga karet sebesar Rp. 6.000,- pada minggu pertama dan pada minggu ke tiga sebesar Rp. 6.500,-.
5.2.3 Penerimaan Non Pertanian
Penerimaan non pertanian di Desa Talang Durian adalah sebesar Rp.512.051,28 per bulan dengan persentase sebesar 6,00% (Tabel 11) dari total keseluruhan penerimaan rumah tangga petani kelapa sawit.
Penerimaan non pertanian di daerah peneliti merupakan penerimaan sampingan. Jumlah rata-rata penerimaan non pertanian lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan pertanian. Dikarenakan hanya sebagian kecil keluarga yang memiliki penerimaan non pertanian sehingga penerimaan ini sebagai penerimaan sampingan masyarakat di Desa Talang Durian.

5.3 Pengeluaran Rumah Tangga
Pengeluaran rumah tangga merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh setiap rumah tangga petani pada saat penelitian selama satu bulan, baik itu pengeluaran untuk pangan maupun non pangan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga petani kelapa sawit sangat tergantung pada penerimaan per bulannya. Semakin tinggi penerimaan petani maka semakin tinggi juga pengeluaran pangan dan non pangannya. Pengeluaran pangan merupakan pengeluaran pokok yang harus dipenuhi sedangkan pengeluaran non pangan adalah pengeluaran sampingan.
Pengeluaran rumah tangga di Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Pengeluaran Rumah Tangga Petani di Desa Talang Durian
No
Jenis Pengeluaran RT
Rata-Rata (Rp/Bln)
Persentase (%)
1
Pengeluaran Pangan
1.963.333,74
49,03
2
Pengeluaran Non Pangan
2.040.948,72
50,97
Total Pengeluaran
4.004.282,46
              100,00
Sumber: Data primer diolah, 2014 (Lampiran 29)
Pengeluaran rumah tangga dihitung berdasarkan jumlah yang dikonsumsi dan tidak dikonsumsi hal ini terdiri dari pengeluaran untuk konsumsi pangan dan pengeluaran konsumsi non pangan. Berdasarkan Tabel 12 rata-rata pengeluaran pangan rumah tangga di Desa Talang Durian yaitu sebesar Rp. 1.963.333,74 per bulan dengan persentase 49,03%, sedangkan untuk pengeluaran non pangan sebesar Rp. 2.040.948,72 per bulan dengan persentase 50,97%. Dari hasil penelitian bahwa konsumsi non pangan rumah tangga petani kelapa sawit lebih besar dari pada konsumsi pangan, dikarenakan rumah tangga petani kelapa sawit lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk non pangan, sehingga pengeluaran non pangan  lebih besar dibandingkan pengeluaran pangan. Dapat dilihat dari jumlah persentase konsumsi non pangan lebih besar dibandingkan dengan konsumsi pangan, hal ini dikarenakan hampir semua rumah tangga petani kelapa sawit melakukan pengeluaran konsumsi pangan tetapi setiap hari juga rumah tangga mengalokasikan untuk konsumsi non pangan lebih besar sehingga jumlah persentase nya berbeda dengan jumlah rata-rata pengeluaran pangan dan non pangan.
Hal ini ditunjukan semakin besar penerimaan rumah tangga, maka semakin meningkat pula konsumsi pangan dan non pangan sehingga penerimaan itu sangat erat kaitannya dengan pengeluaran. Logikanya semakin tinggi tingkat penerimaan maka tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit di Desa Talang Durian akan semakin meningkat. Apabila dinilai dari sudut pandang ekonomi dari hasil penelitian ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kesejahteraan masyarakat sudah dapat dikatakan sejahtera. (Sumarwan, 1993).  Berdasarkan teori ini, maka  keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila porsi pengeluaran untuk pangan jauh lebih kecil dari porsi pengeluaran untuk non pangan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil dengan bertambahnya penerimaan keluarga, karena sebagian  besar dari penerimaan tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan.
5.3.1 Proporsi Pengeluaran Pangan
Konsumsi pangan adalah konsumsi utama yang harus dipenuhi dalam suatu kegiatan rumah tangga termasuk konsumsi energi dan protein, setiap rumah tangga juga tidak sama apa yang dikonsumsinya setiap hari bahkan selama penelitian. Sedangkan tingkat konsumsi energi dan protein berbeda antar keluarga. Hal ini dikarenakan perbedaan tingkat penerimaan pada setiap keluarga petani.
Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan secara tunggal maupun beragam yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, pisikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh dan untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera. Sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat. Menurut Harper et al dalam Suryono (2012) konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan.
Untuk melihat bagaimana pengeluaran pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian per bulan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Pengeluaran Pangan per Bulan
No
Jenis Pengeluaran Pangan
Rata-Rata (Rp)
Persentase (%)
1
Sayuran-Sayuran dan Buah
140.692,31
  7,17
2
Minyak Goreng
  66.769,23
  3,40
3
Bumbu-Bumbuan
188.141,03
  9,58
4
Makanan Jadi
130.487,18
  6,65
5
Rokok
423.744,00
21,58
6
Padi-Padian (Beras)
442.666,67
22,55
7
Umbi-Umbian
  33.076,92
  1,68
8
Ikan
120.641,03
  6,14
9
Daging
189.423,08
  9,65
10
Telur
  32.769,23
  1,67
11
Bahan Minuman
194.923,08
  9,93
Jumlah
        1.963.333,74
           100,00
Sumber: Data primer diolah, 2014 (Lampiran 17)
Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa rata-rata pengeluaran pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian per bulan adalah sebesar Rp.1.963.333,74 atau dengan persentase 49,03% dari total pengeluaran rumah tangga petani kelapa sawit di daerah penelitian ini diperoleh dari pengeluaran pangan rumah tangga (Rp/bulan) dibagi dengan pengeluaran total rumah tangga (Rp/bulan) dikalikan dengan seratus persen.
Rata-rata pengeluaran paling besar terdapat pada pengeluaran padi-padian atau beras yaitu sebesar Rp. 442.666,67 dengan persentase 22,55%. Sedangkan pengeluaran paling kecil terdapat pada pengeluaran pangan telur yaitu sebesar Rp. 32.769,23 dengan persentase 1,67%. Beras merupakan makanan pokok pada setiap rumah tangga petani di daerah peneliti maupun untuk setiap masyarakat di Indonesia, sehingga pengeluaran pangan beras paling besar di bandingkan dengan pengeluaran yang lainya. Berbeda dengan pengeluran pada telur dimana makanan ini hanya sebagai makanan sampingan tidak setiap hari untuk dikonsumsi petani kelapa sawit di daerah peneliti.
5.3.2 Proporsi Pengeluaran Non Pangan
            Pengeluaran non pangan yang merupakan salah satu kebutuhan pokok setelah pengeluaran pangan terpenuhi dalam sebuah rumah tangga petani kelapa sawit. Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat dikatakan membaik apabila penerimaan meningkat dan sebagian penerimaan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi pengeluaran non pangan didalam keluarga petani kelapa sawit.
            Setelah memenuhi pengeluaran pangan maka suatu rumah tangga juga pasti melakukan pengeluaran non pangan hal ini dapat dijadikan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan anggapan bahwa setelah kebutuhan pangan terpenuhi, kelebihan penerimaan akan digunakan untuk konsumsi non pangan. Oleh karena itu motif pengeluaran atau pola pengeluaran suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan pada penerimaan. Secara umum dapat dikatakan tingkat penerimaan yang berbeda-beda menyebabkan keanekaragaman taraf pengeluaran suatu rumah tangga.
         Untuk melihat bagaimana pengeluaran non pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian per bulan dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Pengeluaran Non Pangan per Bulan
No
Jenis Pengeluaran Non Pangan
Rata-Rata (Rp)
Persentase (%)
1
Bahan Bakar
337.897,44
            16,56
2
Listrik
  97.128,21
4,76
3
Perawatan Badan
135.820,51
6,65
4
Komunikasi/Hp
100.051,28
4,90
5
Perawatan Kenderaan Bermotor
  75.384,62
3,69
6
Pendidikan
402.256,41
            19,71
7
Kesehatan
  21.538,46
 1,06
8
Pakaian, Alas Kaki, Tutup Kepala
  32.820,51
 1,61
9
Barang-Barang Tahan Lama
  16.153,85
 0,79
10
Ansuran Kredit Motor dan Bank
            688.307,69
33,72
11
Kegiatan Sosial
 133.589,74
  6,55

Jumlah
         2.040.948,72
           100,00
Sumber: Data primer diolah, 2014 (Lampiran 28)
            Dari tabel 14 diketahui bahwa rata-rata pengeluaran non pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Desa Talang Durian adalah sebesar Rp. 2.040.948,72 atau dengan persentase sebesar 50,97% dari total pengeluaran rumah tangga petani sawit di daerah penelitian. Angka ini didapat dari pengeluaran non pangan rumah tangga (Rp/bulan) dibagi dengan pengeluaran total rumah tangga (Rp/bulan) dikali seratus persen.
            Rata-rata pengeluaran non pangan paling besar terdapat pada pengeluaran Ansuran Kredit Motor dan Bank yaitu sebesar Rp. 688.307,69 dengan jumlah persentase sebesar 33,72% Sedangkan pengeluaran rata-rata paling kecil terdapat pada pengeluaran barang-barang tahan lama yaitu sebesar Rp. 16.153,85 dengan jumlah persentase sebesar 0,79%.
            Pengeluaran non pangan rumah tangga petani yang paling besar terdapat pada pajak dan premi asuransi, hal ini dikarenakan rumah tangga petani di daerah penelitian mempunyai pengeluaran setiap bulannya seperti setoran bank dan kredit motor tetapi tidak semua rumah tangga mempunyai pengeluaran pajak dan premi asuransi atau dengan kata lain hanya sebagian rumah tangga petani yang mengeluarkan nya, sehingga pengeluaran non pangan pajak dan premi asuransi merupakan pengeluaran yang paling besar di antara pengeluaran yang lainya.
                        Hal ini berbanding terbalik dengan pengeluaran barang-barang tahan lama dimana, pengeluaran ini dikeluarkan pada saat dibutuhkan membeli peralatan rumah tangga untuk disimpan dan digunakan lain waktu oleh rumah tangga petani kelapa sawit, sehingga pengeluaran ini tidak besar hanya sebagian kecil dari total pengeluaran non pangan.

No comments:

Post a Comment